Aduh, kali ini ketahuan lagi. Kebiasaanku mengemil vitamin ketahuan lagi. Ibuku mengomel lagi, mengeluh bahwa beliau sudah berulang kali memperingatkan agar tidak sembarangan melahap obat atau vitamin. Ibuku mulai bercerita bahwa beliau sudah cukup memperhatikan gizi anak-anaknya, jadi vitamin itu hanya sesekali diperlukan. Lagipula, lanjut beliau, vitamin diambil oleh tubuh dalam jumlah seperlunya, sisanya dibuang, jadi kalau kamu makan banyak, sia-sia jadinya, kan? Aku mengangguk.
Aduh, kali ini ketahuan lagi. Kebiasaanku mengemil vitamin ketahuan lagi. Habis, siapa suruh vitamin itu dibuat dengan rasa yang enak di lidah. Ibuku mengomel lagi, mengeluh bahwa beliau sudah berulang kali memperingatkan agar tidak sembarangan melahap obat atau vitamin. Semakin lama mendengarkan, ibuku mulai bercerita bahwa beliau sudah cukup memperhatikan gizi anak-anaknya, jadi vitamin itu hanya sesekali diperlukan. Lagipula, lanjut beliau, vitamin diambil oleh tubuh dalam jumlah seperlunya, sisanya dibuang, jadi kalau kamu makan banyak, sia-sia jadinya, kan? Aku mengangguk.
Ibu juga lebih sering menganjurkan kami untuk memperbaiki pola hidup dibanding langsung minum obat. Dari apotek hidup yang ada di depan rumah, Ibu terbiasa meracik jamu-jamuan sederhana untuk mengatasi penyakit-penyakit ringan, seperti flu atau pegal linu. Banyak juga orang-orang di sekitar komplek kami yang ‘berguru’ kepada Ibu, yang kemudian diberi tahu untuk membuat jamu kunyit untuk anaknya yang sulit makan ataupun rebusan daun sirih sebagai antiseptik.
Jka sampai harus minum obat, keluarga dan tetangga tahu harus bertanya pada siapa mengenai obat yang harus mereka pilih dari sekian banyak jenis obat yang ada di pasaran untuk satu penyakit. Pernah suatu kali, Ibu heran melihat nenek yang mengkonsumsi obat maag setelah beliau mengeluh sakit kepala. Ternyata, obat sakit kepala beliaulah yang menyebabkan lambungnya perih. Ibu kemudian menggantikan obat itu dengan obat lain yang ramah lambung.
Hari lain, tetangga kami mengeluhkan mahalnya obat yang harus ia beli untuk mengobati batuknya. TBC, Ibu bilang, adalah penyakit karena bakteri yang butuh obat dalam jangka waktu lama tanpa boleh putus pengobatannya. Ibu memberi saran untuk meminta resepnya diganti dengan obat generik di apotek. Dengan khasiat yang sama, biaya yang kita tanggung akan jauh lebih rendah. Selama pengobatan tetangga kami berjalan, sesekali Ibu menghubunginya, memastikan obatnya dikonsumsi setiap hari tanpa kecuali. Kalau tidak teratur makan antibiotiknya, jumlah obat yang ada di dalam tubuh kita pasti akan turun naik, dan pada saat turun, bakteri akan kegirangan sekali karenanya, kemudian mereka belajar ilmu kekebalan, dan obat yang kita makan pun tak akan mempan lagi, begitu cerita beliau.
Profesi beliau sebagai apoteker, jika diaplikasikan, memang begitu dekat dengan masyarakat. Selain membantu orang lain, Ibu juga merasa pengetahuannya, baik secara ilmiah maupun sosial, semakin terasah dalam sesi-sesi ‘curhat’ teman dan keluarganya mengenai obat. Bagaimana tidak senang punya Ibu seperti beliau, pintar dan suka menolong, macam penjelmaan ilmu P4. Bayangkan, jika ada ratusan atau ribuan rekan seprofesi beliau di negeri ini, dengan keluarga masing-masing yang tahu caranya hidup sehat, tidak akan ada program Indonesia Sehat 2010. Wong Indonesia sudah sehat sejak dulu.




