Apoteker Anda

Profesi apoteker serta centang perenang kontribusi mereka dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia

Aku Seneng Deh Ibuku Apoteker

3.666665
Your rating: None Average: 3.7 (6 votes)

Aduh, kali ini ketahuan lagi. Kebiasaanku mengemil vitamin ketahuan lagi. Ibuku mengomel lagi, mengeluh bahwa beliau sudah berulang kali memperingatkan agar tidak sembarangan melahap obat atau vitamin. Ibuku mulai bercerita bahwa beliau sudah cukup memperhatikan gizi anak-anaknya, jadi vitamin itu hanya sesekali diperlukan. Lagipula, lanjut beliau, vitamin diambil oleh tubuh dalam jumlah seperlunya, sisanya dibuang, jadi kalau kamu makan banyak, sia-sia jadinya, kan? Aku mengangguk.

Aduh, kali ini ketahuan lagi. Kebiasaanku mengemil vitamin ketahuan lagi. Habis, siapa suruh vitamin itu dibuat dengan rasa yang enak di lidah. Ibuku mengomel lagi, mengeluh bahwa beliau sudah berulang kali memperingatkan agar tidak sembarangan melahap obat atau vitamin. Semakin lama mendengarkan, ibuku mulai bercerita bahwa beliau sudah cukup memperhatikan gizi anak-anaknya, jadi vitamin itu hanya sesekali diperlukan. Lagipula, lanjut beliau, vitamin diambil oleh tubuh dalam jumlah seperlunya, sisanya dibuang, jadi kalau kamu makan banyak, sia-sia jadinya, kan? Aku mengangguk.

Ibu juga lebih sering menganjurkan kami untuk memperbaiki pola hidup dibanding langsung minum obat. Dari apotek hidup yang ada di depan rumah, Ibu terbiasa meracik jamu-jamuan sederhana untuk mengatasi penyakit-penyakit ringan, seperti flu atau pegal linu. Banyak juga orang-orang di sekitar komplek kami yang ‘berguru’ kepada Ibu, yang kemudian diberi tahu untuk membuat jamu kunyit untuk anaknya yang sulit makan ataupun rebusan daun sirih sebagai antiseptik.

Jka sampai harus minum obat, keluarga dan tetangga tahu harus bertanya pada siapa mengenai obat yang harus mereka pilih dari sekian banyak jenis obat yang ada di pasaran untuk satu penyakit. Pernah suatu kali, Ibu heran melihat nenek yang mengkonsumsi obat maag setelah beliau mengeluh sakit kepala. Ternyata, obat sakit kepala beliaulah yang menyebabkan lambungnya perih. Ibu kemudian menggantikan obat itu dengan obat lain yang ramah lambung.

Hari lain, tetangga kami mengeluhkan mahalnya obat yang harus ia beli untuk mengobati batuknya. TBC, Ibu bilang, adalah penyakit karena bakteri yang butuh obat dalam jangka waktu lama tanpa boleh putus pengobatannya. Ibu memberi saran untuk meminta resepnya diganti dengan obat generik di apotek. Dengan khasiat yang sama, biaya yang kita tanggung akan jauh lebih rendah. Selama pengobatan tetangga kami berjalan, sesekali Ibu menghubunginya, memastikan obatnya dikonsumsi setiap hari tanpa kecuali.  Kalau tidak teratur makan antibiotiknya, jumlah obat yang ada di dalam tubuh kita pasti akan turun naik, dan pada saat turun, bakteri akan kegirangan sekali karenanya, kemudian mereka belajar ilmu kekebalan, dan obat yang kita makan pun tak akan mempan lagi, begitu cerita beliau.

Profesi beliau sebagai apoteker, jika diaplikasikan, memang begitu dekat dengan masyarakat. Selain membantu orang lain, Ibu juga merasa pengetahuannya, baik secara ilmiah maupun sosial, semakin terasah dalam sesi-sesi ‘curhat’ teman dan keluarganya mengenai obat. Bagaimana tidak senang punya Ibu seperti beliau, pintar dan suka menolong, macam penjelmaan ilmu P4. Bayangkan, jika ada ratusan atau ribuan rekan seprofesi beliau di negeri ini, dengan keluarga masing-masing yang tahu caranya hidup sehat, tidak akan ada program Indonesia Sehat 2010. Wong Indonesia sudah sehat sejak dulu.

penulis: 
referensi: 

* Cerita diatas merupakan kisah fiksi. Jika ada kesamaan tokoh atau alur cerita, itu hanya merupakan kebetulan semata.

PPIC oh PPIC...

5
Your rating: None Average: 5 (1 vote)

Di Industri Farmasi banyak divisi atau bagian yang bisa ditempati oleh seorang apoteker. Salah satu bagian yang mungkin kurang dikenal adalah PPIC atau Production Planning and Inventory Control. PPIC bertanggung jawab terhadap pengadaan berbagai macam bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi, baik bahan aktif, bahan pembantu, maupun bahan-bahan kemas.

Pernahkah Anda bertanya atau mungkin saudara Anda bertanya, dimanakah lulusan farmasi bekerja? Atau dibagian manakah lulusan farmasi bisa bekerja?Jika Anda atau saudara Anda lulusan jurusan farmasi atau sarjana farmasi atau juga dikenal sebagai apoteker, maka Anda tidak perlu khawatir dengan masalah bidang kerja, karena apoteker memiliki banyak pilihan kerja. Bidang-bidang kerja yang bisa digeluti oleh apoteker selain pembuatan obat adalah marketing dengan melakukan pemasaran obat-obatan, atau bisa juga menggeluti bidang regulasi seperti Dinas Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan, selain itu apoteker bisa menjadi mitra yang sejajar dengan dokter di Rumah Sakit, atau bidang-bidang lain yang berkitan dengan kesehatan.Industri Farmasi merupakan salah satu contoh bidang yang cukup banyak digeluti oleh apoteker. Di Industri Farmasi banyak divisi atau bagian yang bisa ditempati oleh seorang apoteker. Salah satu bagian yang mungkin kurang dikenal adalah PPIC atau Production Planning and Inventory Control. Dari namanya tentu sudah bisa diperkirakan seperti apakah kerja di bagian PPIC ini. PPIC bertanggung jawab terhadap pengadaan berbagai macam bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi, baik bahan aktif, bahan pembantu, maupun bahan-bahan kemas.PPIC bertanggung jawab dalam merencanakan jadwal produksi, apakah selanjutnya akan diproduksi tablet, sirup, atau jenis sediaan lainnya. Hal ini dikarenakan PPIC merupakan bagian yang paling mengetahui detail dari jenis dan jumlah stok bahan-bahan baku yang disimpan di gudang. Misalnya, stok bahan untuk pembuatan suatu tablet tidak ada maka PPIC tidak akan menjadwalkan pembuatan atau produksi tablet.PPIC harus mempertimbangkan segala sesuatunya dari berbagai aspek. Jangan sampai karena ingin mencari ”aman”, semua bahan baku didatangkan dalam jumlah yang besar dari awal. Semuanya perlu perhitungan yang jelas, matang, akurat akan berbagai hal, di antaranya :

  1. Target produksi yang telah disepakati bersama misal: bulan depan tablet A harus ada 100 bets, sirop B cukup 200 bets saja, dan krim C 300 bets.
  2. Mempertimbangkan lead-time atau waktu tunggu kedatangan barang sejak tanggal pemesanan misalnya, mendatangkan avicel dari India untuk kebutuhan tablet parasetamol butuh waktu 6 bulan sejak keluar in-voice.
  3. Mempertimbangkan kapasitas gudang, misalnya kapasitas gudang perusahaan hanya 20 pallet maka jangan memproduksi lebih dari 20 pallet.

Tiga point di atas merupakan tiga point utama dari sekian banyak pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang PPIC. Cukup untuk membuat pusing memang, apalagi stok bahan yang harus dipantau tidak hanya puluhan tapi juga ratusan. Dari tanggungjawab divisi PPIC seperti tergambar kasar di atas, tentunya akan muncul pekerjaan-pekerjaan turunan yang menjadi tanggung jawab para staf PPIC, misalnya saja:

  1. Rapat bulanan atau setiap X-bulan sekali dengan divisi-divisi terkait untuk menentukan target produksi. Otomatis harus menyiapkan berbagai laporan baik itu laporan tahunan, bulanan, bahkan mingguan untuk menghadapi meeting tersebut.
  2. Membuat jadwal produksi plus memeriksa/monitoring kondisi stok bahan-bahan baku/kemas.
  3. Penyiapan/pembuatan berbagai macam dokumen yang berhubungan dengan pemesanan/pengadaan bahan baku atau bahan kemas.
  4. Korespondensi atau hubungi lewat telepon para supplier bahan baku atau bahan kemas.
  5. Berkoordinasi dengan Divisi Produksi mengenai proses produksi yang sedang berjalan, akan berjalan, atau ”tertunda” berjalan.
  6. Berkoordinasi dengan Divisi Quality (QA/QC) mengenai proses pemeriksaan bahan-bahan baku/kemas yang masuk.
  7. Berkoordinasi dengan pihak gudang (jika pihak gudang tidak berada di bawah PPIC), memastikan kondisi fisik gudang (penuh dengan barang ataukah sangat penuh), mengontrol proses penyimpanan, penerimaan, dan pengeluaran barang berjalan sesuai SOP (Standard Operational Procedure), pembuatan SOP sebagai panduan kerja para staf gudang.

Nah, mungkin ilmu farmasi para apoteker di divisi PPIC akan terlihat dibutuhkan untuk poin terakhir ini yaitu fokus pada penanganan dan penyimpanan material.
Bagaimana apakah Anda tertarik untuk berkarir di dunia PPIC? Terlihat jelas, disini wawasan sebagai seorang apoteker tetap dibutuhkan.

penulis: 
referensi: 

 

Ruang Lingkup Praktek Apoteker

4
Your rating: None Average: 4 (1 vote)

Saat anak Anda bertanya, ”Apoteker itu apa?”. Atau saudara yang baru lulus SMA berniat melanjutkan kuliah ke jurusan farmasi bertanya ”Pekerjaan Apoteker itu seperti apa?”. Apa Anda langsung tahu jawabannya?

Saat anak Anda bertanya, ”Apoteker itu apa?”. Atau saudara yang baru lulus SMA berniat melanjutkan kuliah ke jurusan farmasi bertanya ”Pekerjaan Apoteker itu seperti apa?”. Apa Anda langsung tahu jawabannya?

Kebanyakan orang awam, akan menjawab apoteker itu orang yang bekerja di apotek. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena apoteker dapat melakukan pekerjaan kefarmasiannya di beberapa tempat, tidak hanya di apotek.

Siapakah Apoteker?
Seseorang disebut apoteker jika telah lulus sebagai sarjana farmasi dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.

Apa yang dilakukan oleh Apoteker?
Pekerjaan seorang apoteker atau praktek kefarmasian meliputi pembuatan, termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan obat, pengadaan obat, penyimpanan obat, dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat, pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
Dalam kalimat singkat, apoteker akan berada di sisi hulu hingga hilir perjalanan sebuah sediaan farmasi berupa obat, obat tradisional, suplemen, ataupun alat kesehatan. Apoteker dapat berpraktek di industri, apotek, rumah sakit, lembaga penelitian dan badan pemerintah.

Seperti apakah contoh nyata pekerjaan kefarmasian?
Di Lembaga penelitian, apoteker meneliti khasiat dan keamanan obat bahkan menemukan obat baru. Selain itu apoteker juga dapat merumuskan formula obat atau bentuk sediaan baru agar obat dapat lebih bermanfaat bagi pasien.
Apoteker bertanggung jawab terhadap produksi suatu obat dan menjamin kualitas obat tersebut sesuai dengan peraturan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) di Industri Farmasi.
Apoteker yang mengabdikan diri di badan regulasi seperti Badan POM merumuskan peraturan-peraturan dan melakukan fungsi pengawasan terhadap obat, obat tradisional, kosmetik serta bahan makanan yang beredar di Indonesia demi kepentingan konsumen.
Di Rumah Sakit atau apotek, apoteker mengelola persediaan obat dan alat kesehatan, menjamin distribusi obat, dan memberikan pelayanan resep dan informasi obat.
Demikian selintas tentang apoteker. Profesi yang mungkin tak pernah Anda lihat langsung di depan mata Anda tetapi mengambil peran dalam kesehatan Anda.

penulis: 
referensi: 

UU No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan